Profil Nagari Sumaniak 4 - Bidang ekonomi

Barito Nagari
By -
0
Sabtu, 9 Safar 1437 H / 21 November 2015 M
Penulis: Meizel Fm Bgd Nan Kuniang

Dimasa sebelum penjajahan itu aturan adat sempat dominan ditengah masyarakat karena aturan itu dibuat dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat suatu nagari tersebut, sedangkan setelah adanya penjajahan Belanda antara Nagari lebih dipengaruhi oleh kepentingan penjajah dan setelah merdeka aturan yang berjalan di sebuah Nagari lebih luas dan bersifat umum untuk wilayah Minang Kabau.

Ketika aturan Adat dalam Nagari dominan sebelum pemjajahan masyarakat hidup sangat Harmonis, sejahtera, ekonomi masyarakat, sudah memberikan ketenangan hidup, tetapi penjajahan masuk kehidupan masyarakat mulai terganggu karena telah dimasuki dan dirasuki kepentingan penjajah, masyarakat yang tadinya ramah – tamah mulai disebut, masyarakat yang sebelumnya damai mulai diadu domba, Perekonomian yang tadinya baik dengan hasil yang melimpah ruah mulai dirampas oleh penjajah, masyarakat yang mulai Cerdik dan Pintar di bodohi dan dikekang oleh penjajah akhirnya masyarakat Nagari terpecah belah serta memulai hidup dalam cengkraman penjajah.

Nagari Sumaniak yang subur ± 850 meter diatas permukaan laut dengan hutan yang masih menyegarkan, tanahnya sangat baik ditanami tanaman tua, tanaman muda, sawah – sawah yang berjenjang bagai tersusun dari yang tinggi sampai ketempat rendah air yang lebih dari cukup mengaliri sawah dan menghasilkan padi melebihi kebutuhan makan, tanaman muda lainnya dihasilkan dari sawah dengan hasil yang berlebih – lebih hingga dapat dijual dan untuk meningkatkan taraf hidup, tanaman tua seperti cengkeh, kopi, kayu manis, kelapa dimasa itu sangat memberikan keuntungan untuk hidup lebih sejahtara.

Jumlah hasil panen yang berlebihan dengan jumlah penduduk yang masih sedikit menjadikan masyarakat hidup makmur, bahkan balai Nagari Sumaniak yang diadakan hari Minggu yang sempat ramai waktu itu, balai terbesar dari Balai – balai yang ada di Nagari sekitar, bahkan balai sumaniak menjadi tolak ukur dan Barometer ekonomi masa lalu, balai sumaniak yang kesohor sampai ke situjuah dan Barulak serta Tungkar dan orang dari sana berjalan kaki pergi ke Balai Sumaniak, bahkan dari nagari sekitar sekeliling Nagari Sumaniak satu – satunya Balai Sumaniak telah punya rumah potong hewan yang mana setiap hari Balai disembelih sampai 8 – 10 ekor Kerbau yang dagingnya habis di hari Balai tersebut. Balai sumaniak yang dilengkapi rumah potong yang didirikan pada tahun 1916 masih dapat dilihat bukti dan dan bekasnya dekat Balai Ahad sekarang yang sudah tidak terpakai lagi dan menjadi bukti sejarah kejayaan Balai masa lalu di Nagari Sumaniak.

Dari sisi ekonomi kemasyarakatan terutama pertanian apakah pertanian tua atau tanaman muda, sumaniak termasuk penghasil yang hasil taninya, productifitasnya tinggi seperti tanaman tua cengkeh sebagai hasil yang primadona dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat serta mengangkat kesejahteraan, mungkin membangun rumah,membeli perabotan, membeli lahan pertanian atau pendidikan serta kesehatan dan juga tak kalah penting bisa untuk merencanakan pergi menunaikan Ibadah Haji, tanaman tua lain yang juga punya hasil yang baik kopi dan kayu manis serta kelapa sebagai lahan konsumtif tapi masih bisa menjual.

Dari tanaman muda seperti padi, kacang dan jagung juga merupakan hasil yang terbaik yang juga dapat dijual setelah dipergunakan untuk konsumsi, sehingga masa lalu nagari sumaniak termasuk penghasil beras dalam skala besar, dari hasil tani tersebut dapat meningkatkan Standar Ekonomi masyarakat sehingga dapat dikatakan sumaniak di Era sebelum tahun 60-an masyarakat hidup sejahtera dengan standar ekonomi diatas nominal. Hasil pertanian lain yang tidak kalah penting adalah ternak, yang mayoritas dipelihara adalah sapi, sebagian kerbau dan kambing serta ayam atau itik, dari ternak yang dipelihara diistilahkan sebagai tabungan karena rata-rata dijual umur 1-2 tahun.

Sumber perekonomian masyarakat Sumaniak dimasa lalu juga dengan berdagang dimana orang sumaniak banyak merantau sejak era sebelum kemerdekaan dan setelah merdeka semakin banyak orang Sumaniak pergi merantau untuk mencari reski yang lebih karena prinsip orang Sumaniak hidup dirantau jauh akan lebih tinggi semangat juang dari pada hidup dikampuang, karena berjuang dirantau dengan sarana yang serba tidak tersedia yang milik kita, sedang kalau dikampuang sarana yang serba ada milik kita akan menjadikan semangat juang mendapatkan menjadi kecil.

Sebagai pegawai Negeri atau Swasta, orang Sumaniak yang pergi merantau itupun cukup banyak dan itu terdapat disemua kesempatan, mungkin diperkantoran, Guru, bidang agama bahkan dipanggung politik ataupun sebagai Teknokrat, sebagai ulama, orang sumaniak juga banyak berperan mulai di level bawah, menengah dan level atas. Anak nagari sumaniak sejak tahun 50-an telah banyak berperan secara nasional disegala disiplin ilmu, semua itu membuktikan bahwa nagari Sumaniak yang anak nagarinya telah jauh-jauh hari meraih, menggapai kemajuan, sehingga dapat disebut maju dan jayanya orang Sumaniak tidak dadakan dan tidak mendapat Durian Runtuh tapi telah terencana dan disikapi sejak dahulu kala.
Sumber:
NAGARI SUMANIAK DARI MASA KEMASA
http://iramayandi.blogspot.co.id/2009/01/nagari-sumaniak-dari-masa-kemasa.html

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)