Profil Nagari Sumaniak 3 (Sejarah masa lalu) -->

Advertisement

Profil Nagari Sumaniak 3 (Sejarah masa lalu)

Barito Nagari
Jumat, 20 November 2015

Penulis: Meizel Fm Bgd Nan Kuniang

Kita berbicara tentang Nagari Sumaniak dan masa, atau sejak dahulu sampai sekarang kemudian kedepan. Penulis sengaja membuat tulisan ini berdasarkan sejarah atau cerita dari para orang tua, bukti jauh bisa ditunjukkan dekat bisa di kakokkan dan penulis yang mempelajari sendiri bagaimana mengenal, memahami serta menyikapi sumaniak ini secara keseluruhan dari semua perspektif dan inipun lahirnya tulisan ini adalah merupakan kepedulian penulis setelah menjalani dan memasuki Sumaniak itu secara utuh dan keseluruhan, sesudah itu timbul pertanyaan tentang Sumaniak esok.

Pada tulisan ini saya penulis mengajak anda mereview kemasa lalu ketika kita pernah bahkan sering mendapat kata Sumaniak Jaya, dari mana, dimana, kemana dan mengapa Sumaniak Jaya itu? Saat ratusan tahun lalu, saya mengatakan demikian karena nagari Sumaniak ini berdasarkan pengamatan fakta, sejarah objek-objek yang ada dan lain-lain sebagai pemahaman dan pengenalan masa lalu saya berkesimpulan bahwa Nagari Sumaniak sudah ada sejak ± abad ke XIV Masehi karena kita bisa membaca sejarah perjuangan misalnya seperti adanya H. Sumaniak yang bersama-sama dengan H. Piobang, H.Miskin, ketika remaja beliau pergi belajar ke Mesir, kemudian H. Sumaniak itupun tentu telah punya keluarga dan generasi yang ada sebelum dia. H, Sumaniak bergabung dengan perang Paderi ± tahun 1821 ketika itu beliau sudah berusia tua dan di nagari ini tentu sudah tertata secara perkampungan yang di sebut nagari. Dari sisi lain Makhudum Syah sudah berada di Nagari Sumaniak mulai dari sekarang ada 10 generasi diatasnya, sedangkan jauh sebelum Makhudum Syah datang ke Sumaniak Nagari ini juga sudah terbentuk dan tertata baik, penjajahan Belanda juga berlangsung 350 tahun dan bagian dari penjajahan Belanda adalah sampai ke Nagari Sumaniak dengan bukti-bukti beberapa pejuang yang orang nagari sumaniak ikut dalam melawan penjajah tersebut.

Pemahaman lain bahwa seperti fenomena tua yang ditanam dikebun-kebun seumpama pohon kelapa yang pernah beberapa batang saya lihat, pohon kelapa yang paling tua, paling tinggi itu pernah ditebang lalu saya coba menghitung langgam pelapahnya yang mana satu lefel katon adalah satu ( 1 ) tahun, saya pernah ulang hitungnya sampai hamper 300 langgam, ini menunjukkan pohon kelapa telah ditanam masyarakat dimana yang ada masih tumbuh sekarang saja ada yang berumur hampir 300 tahun dan tentu setalah itu juga sudah ada pohon kelapa yang lebih tua dari itu dan sudah mau ditebang.

Dari segi nagari ini yang mempunyai lambang-lambang adat seperti Balai-balai KAN sekarang yang dibangun sekitar tahun 1930-an dan sebelah balai-balai yang pada posisi sekarang, balai-balai itu terletak bagian utara disamping tugu yang ada pada saat sekarang dari itu pun sebelum adanya took tinggi yang sudah dibongkar dan diganti dengan petak toko permanen sekarang, sebelum balai-balai dilokasi bagian utara tugu yang ada sekarang tersebut, balai-balai ini berada ditempat Exs. Rumah bak air sekarang yang sebelumnya los tempat penjual daging dan disitupun ada tumbuh pohon kayu besar dahulunya, artinya sejarah adanya balai-balai tersebut sudah cukup panjang dari 3x perpindahan tersebut, sedang awalnya generasi yang masih hidup sekarang tidak pernah melihat balai-balai yang pertama tersebut kemudian sejarah dari orang tuo-tuo mengatakan tempat yang namanya Koto Tuo yaitu dari simpang parak gadang arah sungai tarab atau sekitar pancuran kubang adalah koto tertua atau tempat sekumpulan moyang orang sumaniak berdiam dari bagian selatan Nagari ini, disini asal nagari ini mulai disusun sesuai dengan langkah-langkah perkembangan dimasa itu yaitu dimulai dari baguguak, bakoto, bataratak, bakampuang kemudian bakapalo koto yang merupakan bagian kelompok moyang yang memulai menyusun kampung dari arah utara begitu juga ikue koto dan sampai ke Koto Padang.

Sebagaimana yang disebutkan diatas bukti sejarah awal perkampungan yang tertua itu disebabkan perkembangan, perluasan serta kemajuan tingkat kehidupan masyarakatnya sudah tidak dapat lagi dilihat bekas kampuang tua tersebut, kecuali sebuah pancuran dan tempat mandi yang bernama Pancuran Kubang yang menjadi tapian oleh orang-orang yang berada di Koto Tuo dahulunya. Tidak dapat dilihat sekarang bukti-bukti Kampuang Tuo tersebut adalah karena, masyarakat semakin banyak, kebutuhan tempat tinggal tidak lagi sekedar untuk berteduh, perekonomian semakin baik dan berkembang, tingkat kecerdasan orang-orang juga semakin maju bahkan ditambah dengan pengaruh dari luar yang sudah masuk sehingga orang-orang banyak mencontoh dan membuat sesuatu keadaan kampuang tersebut tidak tidak lagi asli sesuai karakter awalnya. Kampuang-kampuang asli itu sudah berobah dipengaruhi keadaan kampuang-kampuang diluar yang telah lebih dahulu melakukan perubahan-perubahan yang drastis.

Dari bukti tersebut diatas jelas rentang waktu yang dibutuhkan dalam proses perubahan tersebut bukan dalam waktu yang singkat atau 1 dan 2 generasi, menurut hemat saya proses  itu berjalan lebih dari 10 generasi, karena kita hari ini sudah tidak melihat lagi sedikit keadaan masa lalu itu dengan mata kepala kita. Bukti lain, sebelum Makhudumsyah tinggal dan berdiam di Sumaniak bahkan pernah menyelesaikan sengketa antara masyarakat sumaniak / Pemuka Sumaniak dengan penguasa Sungai Tarab Engku Titah, yang mana perdamaian dan penyelesaian sengketa itu dilakukan di Kubang Baraliah nama tempatnya atau dijalan Simpang Jawa Guguak Tinggi sekarang atau disekitar Gardu PLN sekarang. Kubang Baraliah dengan sebatang pohon besar ditengah Kubangan, hari ini tidak lagi tercermin didaerah itu artinya kubangan dan pohon besar itu sudah sempat lama tidak ada dan keadaan tempat itu sekarang sepertinya keadaan biasa dan perubahan menjadi keadaan sekarang tentu juga melalui proses waktu yang cukup panjang, dan Makhudumsyah yang pertama itu sebelum dia tinggal dan berdiam di sumaniak telah melalui proses waktu ± 10 generasi berlalu, artinya juga ratusan tahun kejadian itu telah berlalu sejak sekarang.

Dari semua bukti-bukti sejarah dan fakta tersebut diatas maka dapat sebuah kesimpulan bahwa peradaban masyarakat nagari Sumaniak ini telah dimulai ± 800 tahun yang lalu, sejak moyang kita itu manconcang malateh, baguguak, bakoto, bataratak dan bakampuang yang kemudian menjadi nagari, nagari yang pada mulanya 6 suku dan kemudian dengan kehadiran makhudumsyah nagari sumaniak dibuat system adatnya balaras duo, laras Bodi Caniago basuku anam untuk didalam nagari dan laras Koto Piliang basuku ampek untuk dipopulerkan keluar dari nagari.

Menurut sejarah tutur kata secara turun temurun dan tidak dituliskan, cikal bakal orang sumaniak adalah berasal dari nagari Sungai Tarab, ketika itu nagari Sungai Tarab yang sudah juga dipimpin oleh seorang Rajo yang merupakan satu dari Basa Ampek Balai di Pagaruyuang, dan nagari ini penduduknya sudah sangat banyak untuk ukuran nagari waktu itu serta sudah jaya dan kehidupan masyarakatnya sudah sejahtera. Menurut tutur kata dari cerita ada sebagian orang Sungai Tarab waktu itu yang disebut sebagai Parewa atau orang-orang pembangkang, dan sebagian tutur kata mengatakan adalah sekelompok orang-orang yang ingin berpindah untuk mencari lahan dan tempat baru, nama dari kedua versi tersebut yang pasti ada kelompok orang Sungai Tarab tersebut pergi mencari daerah baru dan mereka berjalan ke utara dari nagari Sungai Tarab itu yang masih merupakan hutan belantara dan belum ada orang yang mengolahnya.Kelompok yang berpindah itu dalam perjalanannya menemukan sebuah batang air / sungai kecil dan sebagian tinggal disini dan sebagian lagi meneruskan perjalanannya dan kemudian kelompok ini juga menemukan sebuah batang air / sungai kecil, lalu mereka berdiam dan tinggal juga disana. Dari kelompok pertama tadilah yang mereka memulai membuka lahan dengan mancancang malateh manaruko yang akhirnya disini awal sebuah taratak yaitu kemudian dinamakan Koto Tuo, dari kelompok yang kedua itu juga mancancang malateh dan manaruko, kemudian melahirkan taratak kedua dengan kapalo koto-ikue koto sampai ke koto padang, kemudian juga kedua taratak ini semakin meluas jadilah kampuang dan akhirnya dijadikan nagari.

Nagari yang awalnya disusun oleh pemuka-pemuka masyarakat dan Tuo-tuo kampuang serta orang-orang yang dipandang waktu itu dan diatur dengan aturan adat serta dipimpin oleh orang petinggi / dituakan dalam adat saat itu sampai datangnya Makhudumsyah dan dibantu menata nagari, menata adat agar lebih sempurna dan diatur juga sistem kepemimpinan dalam nagari waktu itu, Tuanku Makhudumsyah juga menetapkan laras nan duo suku ampek koto tigo sebagai dasar menjalankan kepemimpinan Adat masa itu (karena belum ada sistem pemerintahan nagari). Laras nan duo yaitu Laras Bodi Chaniago yang menjalankan prinsip musyawarah dan mufakat dan Laras Koto Piliang Titiak Dari Ateh Bajanjang Naiak Batanggo Turun Laras Badi Chaniago Basuku Anam untuk pelaksanaan sistem adat ke dalam untuk nagari sedangkan Laras Koto Piliang Basuku Ampek untuk dikatakan kepada orang diluar nagari.

Didalam Laras Bodi Chaniago dikenal pimpinan suku sebagai Penghulu Pucuk dan dalam sistem kerapatan atau musyawarahnya dikenal datuk nan batujuh yang merupakan simbol kebesaran adat nagari disebut juga Bintang Tujuh Nampak Enam, dan dalam Laras Koto Piliang yang memakai prinsip adat kerajaan / barajo dikenal datuk nan barampek merupakan anak rajo dalam sistem yang ada ditiap suku nan ampek dan juga merupakan mewakili badan diri Tuan Makhudumsyah disuku masing-masing nan ampek tersebut.

Sebelum Tuan Makhudumsyah ada di sumaniak dan setelah adanya Tuan Makhudumsyah dinagari sumaniak dimana kedudukannya adalah “ malambangkan Basa Ampek Balai “ sedang kalau di Pagaruyuang beliau adalah Basa Ampek Balai dan Rajo dibidang adat kusuik manyalasai karuah manjaniah sangketo adat dialam Minang Kabau. Untuk kepemimpinan nagari dikenal sebagai Datuak Palo / Kapalo Nagari yang merupakan orang-orang adat yang dipilih untuk pimpinan tersebut, masa itu berlangsung sebelum zaman penjajahan Belanda sampai awal kemerdekaan, dan setelah kemerdekaan yang awalnya ada pemerintahan negara maka pimpinan nagari disebut sebagai kapalo nagari kemudian berdasarkan undang-undang dan peraturan pemerintah yang disesuaikan untuk itu pimpinan nagari itu disebut Wali Nagari.